Proses Kandidasi, Momen Partai Politik Memilih Kandidat yang Berintegritas

Oleh: Bendi Juantara
Pengamat Politik

Proses kandidasi sejatinya merupakan satu satunya fungsi partai politik yang tidak digantikan oleh lembaga lain. Dengan begitu, maka proses kandidasi adalah fungsi yang special dari partai politik. tentunya dalam proses kandidasi, secara ideal ini menjadi momen bagi partai politik untuk memilih kandidat yang berintegritas, berideologis, memiliki kapasitas dan kapabilitas, serta dekat dengan masyarakat.

Selain itu, proses kandidasi juga jadi wadah kesempatan bagi pembinaan karir kader internal partai untuk ikut serta berkontestasi dalam merebut kekuasaan. Ketika kita tarik dalam pengalaman kandidasi pilkada kita akan melihat banyak sekali variabel-variabel penentu partai politik menentukan rekomendasinya. mulai dari pemilihan kandidat berdasarkan kemampuan managerial dalam pemerintahan, kekuatan sponsor dan financial, serta kemampuan mobilisassi birokrasi (Syamsuadi, A., & Yahya, M. R. 2018). Hingga faktor modal individu dan modal sosial, strategi, dan jaringan (Dewi, K. H., Kusumaningtyas, A. N., Ekawati, E., & Soebhan, S. R. (2018).

Namun demikian, beberapa kajian juga melihat bahwa pola kandidasi pada pilkada masih cenderung mengikuti atau ditentukan faktor-faktor primordial seperti agama, kesamaan daerah, kedekatan dan kesetiaan dengan pimpinan teras partai (Syamsuddin Haris, ed), 2004.

Studi-studi politik belakangan ini justru menunjukkan partai politik hanya ditempatkan sebagai perahu sang calon agar mulus dalam mengikuti kontestasi secara formal, tak lain peran partai politik ini sebagaimana disebutkan oleh ward barenscot sebagai “penjaga tol” (menawarkan pencalonan pada bakal calon namun hampir tidak memberikan bantuan apapun dalam kampanye para calon tersebut atau mengarahkan perilaku para calon jika mereka sudah terpilih.

Kebanyakan kandidat calon membentuk organisasi non partai untuk menjaring suara (tim sukses) dengan bergantung pada tokoh atau pemuka masyarakat dan warga yang tidak memiliki afiliasi sama sekali dengan partai politik. (Buehler dan Tan 2007, Ward Barenschot, Edward aspinal:2019) atau dengan cara-cara yang lain yang memungkinkan politisi bisa meraih suara masyarakat.
Meskipun ruang kandidasi partai politik adalah “the secret garden”partai politik, saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa proses kandidasi pilkada Bandarlampung telah melalui paling tidak tiga dimensi penting kandidasi yakni menjunjung tinggi pelembagaan kandidasi, menjunjung nilai demokratisasi kandidasi, dan kandidasi yang terdesentralisasi. Jika memungkinkan pelaksanaanya belum berjalan sepenuhnya maka harapan ke depan bisa menjadi referensi untuk kita bersama-sama mengevaluasi proses kandidasi pilkada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *